Home / e-Books / Daedalus and Icarus, Vol. 11 ePub

Daedalus and Icarus, Vol. 11 ePub

Kisah Kuno dalam Warna Modern

Kisah-kisah dewa-dewa Yunani sudah menjadi bagian dari kebudayaan dunia. Kisah dewa, manusia setengah dewa, dan para pahlawan, dalam literatur Yunani, sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam khazanah cerita dunia. Kisah penguasa semesta Zeus yang membawa petir di tangannya, kecantikan Afrodite sang dewi cinta, keganasan Ares sang dewa perang, kebijaksanaan Atena, atau permainan musik Apollo, bukan lagi sekadar jadi kekayaan literatur dunia.
Banyak nama dari mitologi Yunani yang lantas terkenal dalam bidang-bidang lainnya, misalnya psikologi. Jika kita menyebut Oedipus Complex untuk perasaan dan pengaruh ibu yang terlalu kuat, nama tersebut berasal dari tokoh Oedipus yang mencintai ibunya. Atau jika kita menyebut kata Narsisisme untuk istilah kecintaan diri yang berlebihan, maka nama itu berasal dari tokoh Narkisus yang tampan yang jatuh cinta pada dirinya sendiri.
Maka penerbitan Seri Mitologi Yunani (18 jilid, penutur ulang Menelaos Stephanides, ilustrator Yannis Stephanides,Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1991-1993), untuk pembaca remaja, sejak buku pertama Pertempuran Para Titan sampai buku ke-17, Odise, patutlah disambut sebagai sebuah usaha untuk memperkenalkan mitologi Yunani ini sebagai suatu kesatuan yang utuh. Artinya, jika selama ini para remaja mengenal tokoh-tokoh mitologi Yunani secara sepintas kilas, dengan membaca keseluruhan seri ini akan makin jelas sosok tokoh-tokoh, karakter, dan perlambangan sifat-sifat mereka itu.
Dewa yang Manusiawi
Seri ini memperlihatkan urutan penceritaan yang runtut, dengan pembabakan cerita berdasarkan Kisah Dewa Olimpus (Seri A), Dewa dan Manusia (Seri B), dan Para Pahlawan (Seri C). Pada bagian pertama yang terdiri dari enam judul buku, pembaca akan diperkenalkan dengan dua belas dewa Yunani yang paling besar dan paling dihormati. Keduabelas dewa tersebut adalah Zeus (penguasa langit), Hera (istri Zeus),Afrodite (dewi keindahan dan cinta), Apollo (dewa terang dan seni musik), Hermes (dewa perdagangan), Demeter (dewi pertanian), Artemis (dewi malam bulan purnama, hutan, dan perburuan), Hefestus (dewa api dan kerajinan tangan), Ares (dewa perang), Atena (dewi kebijaksanaan, seni, dan perang yang adil),Poseidon (dewa laut), dan Hestia (dewi rumah tangga dan perapian abadi).
Bagian awal seri ini menceritakan tentang ke-12 dewa Yunani dan mitos-mitos yang berkaitan dengan mereka. Atena misalnya, dewi kebijaksanaan yang namanya dipakai sebagai nama ibukota Yunani, dikisahkan lahir dari kepala sang penguasa, Zeus (buku ke-6: Palas Atena). Mitos-mitos kelahiran dan kejadian para dewa ini, sebagaimana layaknya mitos memberikan porsi yang besar pada imajinasi pembuatnya. Tetapi pengarang buku ini memberikan catatan-catatan yang menghubungkan mitos-mitos tersebut dengan pemikiran masa kini. Bahwa Atena dilahirkan dari kepala Zeus, secara logika adalah suatu kemustahilan. Tetapi jika dilihat sebagai simbol, maka kelahiran melalui kepala ini melambangkan kebijaksanaan dan keadilan sang dewi.
Karakter dewa-dewa Yunani, yang konon tingkatnya lebih tinggi dari manusia ini, penuh dengan kontradiksi. Janganlah berharap dewa-dewa ini murni sebagai tokoh-tokoh yang baik dan dipuja-puja. Bahkan Zeus pun tak luput dari perbuatan yang tidak adil, seperti ketika ia menghukum Prometeus, dewa sahabat manusia, dengan hukuman rantai (buku ke-8: Prometeus). Atau juga karakter jahat Hera yang membuang anaknya Hefestus; karakter Ares yang selalu menginginkan perselisihan, perpecahan, dan perang; atau kisah penyelewengan Ares dan dewi cinta Afrodite (buku ke-5: Singgasana Emas)
Penggambaran dewa-dewa dengan sifat manusia ini cukup menarik sebagai perlambangan atas kehidupan manusia masa kini. Orang-orang Yunani kuno, dengan kemampuan imajinasi mereka yang tinggi, rasa keindahan yang didukung kondisi alam mereka yang permai, telah melahirkan kisah-kisah besar yang menarik dari zaman ke zaman, paling tidak sebagai bahan bacaan tentang perlambangan karakter manusia.
Keberanian Berpikir
Salah satu hasil pemikiran dan filsafat Yunani yang ada di belakang mitos-mitos ini adalah keberanian berpikir. Dewa-dewa Yunani yang berkuasa atas manusia itu, pada akhirnya juga digugat oleh manusia sendiri. Ketika Prometeus, figur titan (dewa Yunani yang berbadan besar dan berkekuatan hebat) penolong umat manusia dihukum rantai di pegunungan Kaukasus, para sahabatnya meratapinya.
“Aku ajarkan kepada manusia seni dan pengetahuan. Aku ajari mereka membaca dan menulis. Aku ajari mereka membangun rumah, dan aku berikan kepada mereka kehangatan hati,” ujar Prometeus.
“Tapi mengapa kau dihukum untuk semua kebaikan itu?” kata para Okeanida, dewi-dewi air putri Okeanus.
“Kaulihat bagaimana hukumanku untuk semua itu. Tapi dengarkan kata-kataku. Seandainya aku melakukan kejahatan, mungkin aku tak akan dihukum sama sekali. Ketidakadilan menimbulkan hukuman yang paling berat untuk mereka yang berjuang menentangnya,” kata Prometeus (h. 8 buku ke-8: Prometeus).
Dialog Prometeus dan para Okeanida ini memperlihatkan kecaman terhadap ketidakadilan hukuman Zeus, sang penguasa dewa dan manusia. Bahkan para Okeanida itu bernyanyi dalam lingkaran suci teater: “Kami telah belajar membenci para pengkhianat!” Dan salah satu pengkhianat itu adalah Zeus! Hal ini memperlihatkan betapa radikalnya pemikiran dan filsafat Yunani yang tersembul dalam mitos-mitos Yunani ini.
Tentulah pesan-pesan semacam ini belum sepenuhnya dapat dimengerti oleh pembaca remaja, sebagai
download Daedalus and Icarus, Vol. 11 ePub